Keterlibatan Kaum Difabel Dalam Pembuatan Karya Bersama Komunitas Film

Penyandang disabilitas membuat karya film?

Hal tersebut mungkin terdengar mustahil. Kita semua tahu bahwa pembuatan film memerlukan gerak gesit dan tidak terbatas. Target pembuatan film sering menjadi alasan kru untuk tetap bekerja tanpa mengenal waktu. Lantas bagaimana penyandang disabilitas mampu mengimbangi mereka yang normal hingga membuat karya film?

/

Dalam rangka membuktikan hal ini, Komunitas Cinta Film (KCFI) bersama Kemnaker berinisiatif untuk membuat pelatihan pembuatan film pendek dengan tema disabilitas. Pembuatan film pendek ini juga melibatkan penyandang disabilitas, sebuah bentuk upaya untuk tetap memberikan apresiasi bagi mereka agar terus berkarya. Dimulai dari penulis naskah, juru kamera, hingga pemain merupakan penyandang disabilitas. Mereka memiliki ide cerita sendiri, sehingga orisinalitasnya semakin terasa.

Tentu saja pembuatan film dengan melibatkan penyandang disabilitas tidak semudah dengan orang normal. Penyandang disabilitas yang terlibat terdiri atas berbagai jenis, seperti bisu tuli dan tuna netra. Kesulitan ditemui dalam bentuk komunikasi. Banyak kru lupa bahwa yang mereka ajak bicara adalah penyandang disabilitas tuna rungu, wicara, dan tuna netra. Sehingga sering berteriak kepada tuna wicara dan memberi instruksi gambar pada tuna netra. Akibatnya penyandang disabllitas kurang memahami arahan dengan baik.

Maka dalam hal ini, sabar dan bersahabat adalah kunci utama. Mereka saling memahami dan mengingatkan akan tidak terjadi kesalahan komunikasi lebih jauh. Sebagai orang normal, setidaknya menguasai cara berkomunikasi terhadap penyandang disabilitas dengan baik tanpa merendahkan mereka. Sebaliknya penyandang disabilitas sebaiknya tidak merasa minder, harus percaya diri bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama dengan orang normal. Hingga sejauh ini, mereka telah menghasilkan dua film pendek dengan durasi masing-masing lima menit.

Tidak hanya membuat film, kegiatan KCFI bersama penyandang disabilitas adalah nobar bioskop berbisik bersama tuna netra. Dalam hal ini melibatkan volunter yang mendampingi disabilitas tuna netra agar mampu memahami film.

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah salah satu upaya Pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Ramah Disabilitas. Isu ramah disabilitas bukanlah hal yang baru di negara lain, sehingga pemerintah Indonesia juga tidak mau kalah menjadikan negara ini terbuka bagi kaum disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *